Ada Amarah di Mataku
Aku sempat menahan luapan emosi. Sesekali kuseka deraian linangan air kemarahan. Merasa mengendap perasaan negatif. Tadi pagi, keadaan kesehatan diri menurun dan sedang meriang-meriangnya raga ini. Aku menyesali kesalahanku, aku juga mengakui keburukan akan kurangnya persiapan. Aku menahan napas karena kesal, aku kehilangan oksigen dan aku keluarkan dalam visualisasi dobrakan pintu serta perlakuan terhadap benda terdekat di sampingku.
Di saat menurunnya kondisi tubuh, setelah jamaah subuh di rumah Allah dekat rumah. Aku memutuskan untuk segera menelan pil pahit pencegah nyeri tubuh dan influenza. Aku tak banyak berpikir. Yang aku rasa aku sangat lelah, meriang, menahan kantuk, dan aku putuskan aku butuh istirahat. Aku tertidur hingga waktu persiapan ke sekolah terbengkalai hingga membuatku sempat tergesa-gesa dan mengambinghitamkan kesalahan orangtuaku, bapak. Bapak yang jelas datang lebih lama dari biasanya setelah mengantarkan bundaku. Aku muntap ingin marah.
Aku bertahan. Emosiku tidak akan aku ledakkan begitu saja. Jam dinding kamar tempat aku beristirahat menunjukan waktu yang semakin siang. Matahari di luar pula menambah kecemasanku akan kejadian kesiangan hari ini. Ragaku sudah cukup mendingan daripada waktu subuh tadi. Tapi, kebiasaanku terburu-buru membuat rencana awal berantakan. Aku memutuskan segera berangkat. Karena kondisi badan yang kurang fit. Aku niatkan untuk tidak mandi. Ternyata berbanding terbalik.
Sembari menunggu bapak pulang mengantar bunda aku sibukkan membereskan rumah, membuka tirai jendela dan mematikan lampu-lampu setiap ruangan yang masih menyala. Mentari sudah sangat terik. Aku membenci suasana ini. Bahkan menunggu. Aku lanjutkan mencuci piring dan gelas yang sedikit menumpuk di atas wastafel dapur. Aku lirik lagi jam dinding, pukul 06.42 am. Aku yang awalnya tak berniat mandi. Kutekadkan dengan guyuran air dingin. Merasuklah pada setiap pori-pori badanku.
Brrrrr.....dingin sekali. Pekikku lirih. Aku telah disambut kedatangan bapakku. Semakin aku kedinginan ditambah bara di batinku. Aku marah. Jelas marah. Di madrasah tempat aku belajar kehidupan dan menyalurkan sedikit ilmu pada anak-anak mewajibkan bel berbunyi 7.00 kurang seperempat. Aku semakin tak kuasa tergesa-gesa. Bagaimana tidak?? sudah kesiangan, meriang, terlambat... Ahh.. Sudah aku segera berlari saja memakai seragamku. Itupun dengan perselisihan kecil. Aku tidak bersiap diri malamnya. Masih mencari-cari dan berteriak!!!
Ini semua gara-gara bapak, udah aku kesiangan, belum datang satu-satunya transportasi rumah, malah masih mandi juga. Jelas. Aku marah dan tanpa sedikit senyum. Segera aku masukkan gagang kunci motor. Aku operkan dengan jeglengan. Tanpa pamit. Kukendarai motor berkecapatan tinggi.
Ingin sebenarnya berlari dikit dan mencium tangan rentanya yang saat itu membayar rapelan menyapu halaman karena kemarin juga tak menyempatkan diri. Aku marah! Masih dengan luka yang memendam hingga tak sedikit anak-anak orang yang menerima sedikit ilmu menjadi media amarah.
Allah. Tuhan Semesta Alam. Sebenarnya tak ingin rasa ini meledakkan amarah.
Sedikit cerita sehari di rabu sore
Saat kumandang ashar memanggil
Ngaringan,24 Agustus 2016
Disamping ibu terbaring lelah💔💔💔💔
Komentar
Posting Komentar