Ada Amarah di Mataku
Aku sempat menahan luapan emosi. Sesekali kuseka deraian linangan air kemarahan. Merasa mengendap perasaan negatif. Tadi pagi, keadaan kesehatan diri menurun dan sedang meriang-meriangnya raga ini. Aku menyesali kesalahanku, aku juga mengakui keburukan akan kurangnya persiapan. Aku menahan napas karena kesal, aku kehilangan oksigen dan aku keluarkan dalam visualisasi dobrakan pintu serta perlakuan terhadap benda terdekat di sampingku. Di saat menurunnya kondisi tubuh, setelah jamaah subuh di rumah Allah dekat rumah. Aku memutuskan untuk segera menelan pil pahit pencegah nyeri tubuh dan influenza. Aku tak banyak berpikir. Yang aku rasa aku sangat lelah, meriang, menahan kantuk, dan aku putuskan aku butuh istirahat. Aku tertidur hingga waktu persiapan ke sekolah terbengkalai hingga membuatku sempat tergesa-gesa dan mengambinghitamkan kesalahan orangtuaku, bapak. Bapak yang jelas datang...